Relativitas dan Kesenjangan

Dalam kehidupan ini ternyata banyak sekali relativitas hidup. Saya baru saja bekerjasama dengan orang yang menurut saya ’sangat kaya’. Dia adalah pengusaha dealer handphone kelas nasional. Jaringan bisnisnya menyebar seantero kota di Indonesia. Padahal saya sudah banyak mengagumi kekayaan teman-teman saya sebelumnya, yang menurut saya sudah cukup kaya.

Berbicara dengan orang seperti ini, seakan-akan memandang taraf bisnis teman-teman saya sebelumnya adalah masih berukuran rendah. Padahal kalau saya lihat itu sudah sangat tinggi. Mungkin menurut Anda yang membaca blog ini, juga akan relatif memandang tinggi rendah taraf tersebut.

Coba bayangkan, ada salah satu teman saya yang omset transaksi bisnisnya 10.000 transaksi per hari. Jika laba kotor per transaksi 400 rupiah, berarti sudah 4.000.000 per hari. Artinya, dia bisa memiliki laba kotor 120.000.000 per bulan. Padahal karyawannya cuma 4-5 orang dengan gaji dibawah satu juta rupiah per bulan. Biaya-biaya lain-lain tak lebih dari 4 juta per bulan. Bagaimana menurut Anda ?

Itu sama kenalan baru saya dianggap masih rendah, karena dia membandingkan dengan transaksi perusahaan lain yang bisa mencapai 60.000 sampai 100.000 transaksi per hari.

Mungkin saja nanti saya akan bertemu dengan orang yang lebih kaya lagi, entah itu segolongan Aburizal Bakri yang (mestinya) bisa membuatkan kota baru bagi warga sekitar Lapindo Brantas Inc. Atau sekelas Donald Trumph yang bisa membeli pulau Bali barangkali. Atau sekelas Bill Gates yang mungkin saja bisa membeli sebuah negara berikut omset di dalamnya.

Itulah relativitas kehidupan. Anda akan berbeda memandang suatu keadaan, tergantung bagaimana lingkungan Anda membentuknya. Kita akan semakin imbang dalam memandang sesuatu, ketika lingkungan kita juga imbang. Sehingga tidak terlalu mengagumi namun juga tidak terlalu merendahkan.

Ketidakseimbangan lingkungan bisa menyebabkan kita terjebak dalam kesenjangan. Sehingga kita tidak bisa menempatkan diri dengan baik. Orang-orang yang sangat kaya, memang semestinya sekali-kali harus berkumpul dengan orang-orang miskin. Supaya mereka menyadari bahwa kekayaannya sudah begitu tinggi. Namun, tentunya kita tidak bisa mengatakan bahwa orang-orang miskin sebaiknya juga berteman dengan orang-orang kaya supaya dia merasa bahwa dirinya begitu miskin. :(

Ya memang itu sudah tugas orang kaya yang harus berbagi dengan orang miskin. Supaya kekayaannya tersebut tidak dianggapnya masih rendah, sehingga terus berusaha mengejar yang lebih kaya lagi. Dan, lupa bahwa masih banyak yang lebih miskin darinya.

Tinggalkan Balasan