Kalau saya mengamati, 5 tahun terakhir ini telah berdiri beberapa pusat perbelenjaan besar di Surabaya. Ada City Of Tomorrow, Royal Plaza, Pakuwon Trade Center, Darmo Trade Center, BG Junction dan lain-lain (lupa namanya). Dari beberapa plaza yang berdiri tersebut, memang yang tampak sekali mencolok dari segi artitektur adalah Cito. Sehingga jauh-jauh hari, sebelum berdiri orang sudah banyak yang membicarakannya
Akan tetapi, setelah berdiri, rata-rata orang tidak lagi membicarakan artsitekturnya atau kebesarannya (ukurannya maksudnya). Seperti PTC yang memang sangat besar sekali. Namun, yang betul-betul mencengangkan adalah munculnya Sutos (Surabaya Town Square). Saya tidak mengerti banyak akan asal-usulnya. Akan tetapi, gaya desain dan suasananya betul-betul baru. Praktis membuat tercengang orang-orang yang mengunjunginya. Dan, so pasti karena betul-betul menawarkan suasana dan konsep baru dalam ber-plaza, maka bejibunlah pengunjungnya. Padahal, tidak pernah promosi lho…..
Kita tidak akan membicarakannya dari sisi kelebihannya, karena dah banyak yang membicarakannya di blog-blog atau komunitas (nah, jadi bahan pembicaraan kan)?. Cari saja keyword “Sutos”. Nah, yang kita fokuskan adalah sisi inovatifnya.
Dibandingkan dengan plaza-plaza lain, kayaknya memang Sutos menawarkan suasana yang sangat baru. Di saat plaza-plaza lain berlomba di ukuran, lokasi dan kemegahan (exterior arsitektur), Sutos menawarkan kenyamanan, keindahan, dan seni arsitekturnya interiornya.
Jelas ini menawarkan hal baru kepada pelanggan. Apakah yang istimewa? Apakah ketiga unsur itu? Bisa jadi. Karena memang banyak orang melihatnya seperti itu. Dan memang benar.
Akan tetapi, saya melihatnya lebih dari itu. Menurut saya yang menjadi faktor pelanggan berbondong-bondong ke Sutos adalah karena menawarkan hal baru. Sekali lagi menawarkan hal baru. Dan, yang namanya hal baru pasti memberikan warna yang lain dari yang lain. Kebetulan disukai oleh pelanggan.
Mengapa sebenarnya lebih menitik beratkan pada hal barunya? Sekarang bayangkan, jika ada 5 macam sutos yang berarsitektur sejenis dan kita dah mengunjunginya bertahun-tahun. Mungkin juga akan bosan. Mungkin pendapat kita yang sekarang memuji, jadi biasa, bahkan mencaci. Padahal isinya sama.
Contoh, “Sutos sekarang lampunya redup-redup, sangat nyaman kalo buat jalan-jalan”. Kalo sudah bosan jadi gini, “wah Sutos lampunya redup-redup, bikin sepet di mata dan bikin ngantuk”. Nah, intinya sebenarnya sama, suasananya. Akan tetapi reaksi yang ditimbulkan yang berbeda.
Apakah pelajarannya?
Bahwa perubahan akan selalu terjadi. Sehingga eksistensi sebuah perusahaan sebenarnya adalah perubahan itu sendiri. Mampukah mengikutinya, atau kalau bisa jadi trend setter, agent of change, atau inovator di eranya.
TIdak ada yang akan abadi sepanjang masa, kecuali kita mampu mengelola perubahan. Sukses di suatu masa (mungkin 1-5 tahun) adalah jangka waktu pendek. Jika bertahan di ukuran 5-10 tahun itu baru perusahaan berkembang, jika bisa bertahan di atas 10 tahun itu baru perusahaan hebat yang pasti bisa menundukkan pasar.
Bertahan diatas 10 tahun pun ada dua faktor, jika faktornya perseorangan mungkin akan bertahan dua generasi mungkin bapak dan anaknya. Jika sama-sama memiliki integritas sama dengan orang tuanya, mungkin akan membesar. Tapi jika tidak memiliki integritas seperti orang tuanya, maka jika skill management tidak distandarisasi dan tidak menemukan generasi penerus, maka tunggulah perusahaan tersebut akan bisa menurun lagi. Bisa hancur atau berpindah tangan ke orang lain.
Hai,
Sutos memang berkonsep alun-alun kota. Yang namanya alun-alun, tentu saja tidak sama dengan mal-mal yang sudah ada (Supermal, Plasa Tunjungan, Plasa Surabaya, Galaxy, Cito). Di SUTOS, gerai terbanyak adalah makanan. Kalau ada butik, salon, gerai kosmetika, itu sebagai pelengkap, tapi jualan utama adalah tetep tempat nongkrong. Karena itu kenapa jam bukanya juga lebih lama (hari biasa sampai pk 24.00 WIB dan hari Sabtu (malam Minggu) sampai pk 02.00 WIB. Tentu saja SUTOS jangan dibandingkan dengan ROYAL dan DTC karena konsepnya memang beda banget. Salam
Wah, baru tahu kalo konsepnya ternyata Alun-alun. Thx to mbak Yudhita. Berarti nanti boleh juga buat mall konsepnya taman kota ya.. jadi banyak tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan…
klo ke sutos, tujuannya harus membeli sesuatu (makanan). klo cuman pengen jalan-jalan doang ato mo liat”, ga terlalu cocok.. secara disana itu dijejelin ama resto”, butik aga banyak tp barangnya itu” aja, salon cuman 1, yah bnr” tempat untuk hangout sambil duduk” dan menyesap kopi (dan sejenisnya) gitu deh.. sebelum ini emang blum ada plaza/mall di surabaya yg konsepnya sperti itu.
Ya, itu mmg utk org2 cangkruk mbak. Kalau mau belanja ya gak banyak pilihan.. he2
HAI bosss..
wah jadi semangat ini klo ada gini2 an ….he he he
saya sangat setuju sekali apa yang di katakan sama si bos..
“Bahwa perubahan akan selalu terjadi.
Sehingga eksistensi sebuah perusahaan sebenarnya adalah
perubahan itu sendiri. Mampukah mengikutinya,
atau kalau bisa jadi trend setter, agent of change, atau inovator di eranya”
di lihat dari sisi mana nya dulu dan perubahan yang bagaimana ..??
klo di lihat dari sisi kelebihan semua mempunyai kelebihan
dan klo di lihat dari sisi perubahan pasti semua akan mengadakan perubahan2
demi pamor nya perusahan masing2.
karena saya rasa SUTOS di banding dengan yg lain sama aja
cuman SUTOS mungkin dari sisi tampilan dan dan suasana berbeda…
la trs piye too…..??
mungkin .. ini mungkin loya ….hehe
be’e klo dalam bahasa jawa..
SUTOS memiliki sinyal yang kuat dlm menangkap keinginan manusia2 jaman sekarang
sehingga terciptanya sebuah ide membuat magnet utk menarik biji-biji besi bahasa logika nya seperti itu
la permasalahanya magnet kan semua sama pasti klo ada besi pasti ketarik.
tinggal jenis magnet nya aja yang di buat seperti apa, di bungkus apa dibuat loncong atau yg lain-lain.
Haha, latihan menulis mas … Eh, gak taunya tulisan sutos yg banyak dikomentari. Padahal, ini cuman tulisan sederhana untuk menajamkan analisisku sendiri.. Tapi jika bermanfaat ya Alhamdulillah..
Sukses selau mas..