Perlunya Energi Mimpi-mimpi
Ketika awal-awal masa kuliah dulu, saya sedikit bersyukur ketika saya harus jadi mahasiswa miskin dan ‘kampungan’ (maksudnya dari kampung sekali). Dengan kemiskinan itulah, saya selalu mencari ilmu, wawasan dan pengalaman agar suatu saat bisa mengubah nasib, sehingga bisa menjadi orang-orang yang sukses di kemudian hari. Tidak seperti saat itu, begitu sengsara dan susah payah memenuhi kebutuhan kos dan kuliah.
Saya tidak tahu mengapa saat itu saya tidak mendapatkan pekerjaan sampingan, sehingga mendapatkan penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup di kos-kosan. Tapi hari-hari banyak saya habiskan hanya untuk membaca profil-profil pengusaha sukses, membaca majalah-majalah bisnis, majalah arsitektur, majalah fotografi, jalan-jalan keliling kota, mengamati suasana kota surabaya, melihat-lihat gedung dan pertokoan dan lain sebagainya.
Pikiran saya begitu menerawang, banyak bayangan-bayangan melintas, dan sering diam terbawa lamunan membayangkan bagaimana semua ini bisa terjadi. Bagaimana gedung-gedung bisa menjulang tinggi dan bagus, bagaimana cara merancang dan mendapatkan dana untuk membangunnya. Ketika membaca profil para pengusaha dan tokoh sukses saat itu (1994) semacam Probosutejo, Eka Tjipta Wijaya, Mochtar Riyadi, Sudono Salim yang ramai di majalah Swa Sembada. Juga muncul banyak sekali pertanyaan, bagaimana mereka bisa mewujudkan semuanya sehingga bisa menjadi gurita bisnis saat itu. Bagaimana mereka memimpin orang-orang berkwalitas di sekitarnya sehingga menjadi sebuah organisasi besar yang sangat kaya.
Ketika saya jalan-jalan ke pasar turi (jalan-jalan saya pada saat itu sering naik sepeda onthel), saya juga mengamati bagaimana mereka bisa jualan seperti ini. Bagaimana memulainya, bagaimana cara membuka cabang-cabang yang begitu banyak dan padat barangnya. Wah, tentu banyak perjuangan yang harus dilakukan.
Terus terang, sebagian besar pertanyaan itu tidak bisa terjawab. Apalagi karakter pribadi saya yang sebenarnya agak pemalu, bikin saya sulit mencari tahu bagimana mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut tanpa harus bertanya. Sehingga seringkali malah bikin kepala menjadi pusing, stress dan sumpek.
Akibatnya, perkuliahan lah yang jadi korban. Hampir 4 semester IP hanya berkisar di sekitar 2. Kalau nggak diatasnya ya dibawahnya
Beruntung, di semester 5 ke atas ada pertolongan Allah, sehingga perekonomian orang tua membaik dan aku bisa kuliah dengan konsentrasi.
Tak disangka bahwa perjalanan hidup itu ternyata begitu membawa berkah. Segala puji bagi Allah SWT yang mengatur semuanya. Saat ini, di saat orang lain bingung bekerja, mencari pekerjaan, atau membuat perusahaan, saya justru bingung membendung ide-ide yang begitu banyak. Bingung membendung akselerasi perkembangan perusahaan yang tidak seimbang dengan kekuatan manajemen dan pendanaan.
Mungkin terlalu narsis jika saya cerita terlalu banyak tentang diri sendiri. Namun, saya merasa ternyata situasi yang saya ceritakan di atas begitu pengaruh membentuk pola pikir saya sekarang ini. Untuk menemukan ide-ide baru dalam berbisnis, mengatasi persoalan, merancang produk dan konsepsional, membayangkan sesuatu yang belum ada, dan tidak saya sangka usulan-usulan dan ide-ide saya begitu dipercaya orang.
Perlu energi mimpi-mimpi untuk membentuk karakter enterpreneur. Waduh, menyebut diri enterpreneur, wah narsis lagi..
dah ah..
Maksud dari tulisan ini adalah, ada baiknya jika sedang aktif di perkuliahan, saya sarankan jangan sekedar mengejar nilai. Nilai adalah tujuan jangka pendek. Berikanlah waktu untuk otak kanan supaya memiliki kemampuan ‘membaca masa depan’, supaya otak kiri tepat sasaran dalam mengikuti perkuliahan, dan otak bawah sadar tepat sasaran dalam mencari insting-insting baru.
Kekuatan insting, khayalan dan imajinasi inilah yang tidak dipelajari dalam mata kuliah. Dia hanya bisa dipelajari dengan membaca lingkungan sekitar. Membaca perilaku konsumen, membaca kebutuhan dan masalah kemasyarakatan, membaca perkembangan seni dan budaya, membaca perkembangan ilmu pengetahuan secara global, membaca perkembangan pendidikan, politik dan lain sebagainya.
Kekuatan imajinasi bisa terbentuk dengan keterpaksaan, akan tetapi tentu lebih bagus lagi jika direncanakan / diprogram. Bidangnya tergantung dari minatnya masing-masing. Akan tetapi, yang pasti kekuatan insting dan imajinasi, akan terlatih jika kita sering mengamati kondisi lingkungan, kemudian banyak direnungkan dan difikirkan. Dengan melamun, atau diam tanpa melakukan pekerjaan apa-apa. Yang bekerja hanyalah fikiran, bukan untuk memikirkan masa lalu, akan tetapi memikirkan masa depan, tantangan yang akan menghadang di depan kita dan bagaimana menundukkananya.
DIarsipkan di bawah: Renungan | yang berkaitan: inovasi, mimpi