Pentingnya Filosofi sebagai Pengantar Mata Kuliah

Secara sederhana, target perkuliahan adalah bagaimana kita bisa menguasai mata kuliah yang diajarkan. Akan tetapi, akan muncul bermacam output sesuai dengan karakter masing-masing penerimanya (mahasiswa). Ada yang tidak bisa, sekedar bisa, menguasai (bisa dan paham), atau ingin mendalami sehingga tercipta inspirasi dan bisa menciptakan sesuatu dari mata kuliah tersebut.

Mungkin ada banyak perdebatan ttg beberapa macam output tersebut, tapi saya rasa itu bukan hal yang penting untuk dibicarakan. Yang kami soroti disini adalah output yang paling ideal, bagaimana agar mata perkuliahan yang diberikan di kampus bisa mencapai tahap menciptakan inspirasi. Karena sebuah ilmu pengetahuan akan sangat berkembang jika mampu menciptakan inspirasi-inspirasi baru bagi anak didiknya, baik untuk berkarya, atau mengatasi problem-problem masyarakat yang ada.

Saya ingin memberikan ulasan ini berdasarkan pengalaman kuliah dulu dan sekarang, hasil tukar pikiran dengan mahasiswa yang aktif sekarang. Baik buruknya uraian saya ini, mohon ditanggapi dengan positif. Karena pada dasarnya hanya untuk kebaikan bersama.

Pilih mana : bisa, menguasai, atau mendalami.

 

Untuk tahap sekedar membuat mahasiswa bisa menerima mata kuliah, tentu saya yakin semua bpk/ibu dosen bisa menjalankannya. Saya juga merasakan dari dulu, semua berjuang untuk bisa mencapai tahap menguasai (bisa dan paham). Akan tetapi, saya nilai sulit sekali mencapai tahap memahami. Mayoritas hanya sampai pada sekedar bisa. Artinya, bisa mengerjakan tugas-tugas, bisa menyelesaikan project, dan lain sebagainya, lalu dapat nilai A atau B atau C (kalau D berarti tidak bisa). Akan tetapi, untuk bisa mencapai tahap paham, dibutuhkan kronologis, latar belakang, manfaat, masalah dan tujuan akhir dari perkuliahan tersebut. Sehingga para mahasiswa memiliki fokus tujuan ketika menerima mata kuliah. Tidak sekedar tujuan dapat nilai bagus.

Nah seringkali kronologis, latar belakang, tujuan dan manfaat ini yang sering diabaikan. Ketika masuk perkuliahan, sang dosen setelah memperkenalkan diri langsung menuju BAB I, BAB II dan seterusnya mengikuti kurikulum. Akhirnya mahasiswa kurang paham, apa sebenarnya hakekat (filosofi) dari mata kuliah tersebut dan manfaat apakah yang akan diperoleh jika mampu menguasainya. Kadang-kadang saya sendiri baru memahami fungsi mata kuliah tertentu ketika sudah lulus.

Mestinya, dalam pertemuan awal-awal, pengajar harus memberikan wawasan yang cukup akan hakekat dan manfaat mata kuliah tersebut. Harus diceritakan tentang tantangan-tantangan di masyarakat yang bisa diatasi dengan ilmu tersebut. Sehingga mahasiswa mampu mengukur dengan minat, kemampuan, dan cita-citanya, apakah harus sekedar bisa, menguasai, atau betul-betul ingin mendalami sehingga mampu menciptakan sesuatu dari ilmu ini.

Disini nanti akan terjadi perdebatan, dimana mahasiswa boleh memilih (menentukan) sendiri (secara non formal), apakah dia harus menguasai mata kuliah tersebut atau tidak, disesuaikan dengan minat dan bakatnya. Akan tetapi, bagi yang tertarik dan ingin menguasainya, ini akan jadi dorongan besar bagi mahasiswa tersebut untuk lebih serius dalam perkuliahan. Tidak perlu diberikan tugas-tugas yang ketat dan berat, insting akan membawanya untuk mendalami sendiri mata kuliah tersebut.

Saya tidak mengetahui sejauh mana para bpk/ibu dosen mampu dalam memberikan wawasan yang cukup untuk penghantar sebuah mata kuliah. Akan tetapi, dari pengalaman saya dulu dan cerita beberapa mahasiswa sekarang, tampaknya tidak mengalami banyak perubahan (baca: kemajuan).

Mereka kadang tidak mengetahui untuk apa (manfaatnya) belajar automata, untuk apa belajar matematika diskrit, untuk apa belajar image processing, teori digital, dan lain-lain. Bagaimana nanti implementasinya di lapangan baik untuk kepentingan bisnis, pendidikan, goverment, sosial atau seni budaya. Mayoritas pemahamannya kalau belajar web programming ya untuk bikin aplikasi web, belajar algoritma pemrograman ya untuk bikin program yang bagus, AI untuk bikin program analisis bisnis, dan lain sebagainya. Target akhirnya mungkin berbentuk project e-goverment, software pendidikan, program akuntansi, program lingkungan hidup dan lain sebagainya.

Padahal, tujuan-tujuan tersebut adalah kategori tujuan skala kecil, jangka pendek. Dimana ada tujuan yang mestinya lebih skala besar dan jangka panjang, yang mestinya harus lebih dipahaminya. Tujuan tersebut adalah jawaban, untuk apa program akuntansi, untuk apa program web, apakah tujuan dibuatnya program e-goverment dan lain sebagainya. Bagaimana sebuah program AI mampu mengatasi masalah ekonomi bangsa, bagaimana sebuah program image processing bisa mengatasi problem lingkungan hidup, bagaimana teori automata bisa dimanfaatkan untuk deteksi demografi kependudukan, bagaimana teori digital dan bahasa assembly bisa membuat alat-alat elektronik sehingga bisa membendung masuknya produk luar negeri, dan bagaimana sebuah program akuntansi bisa membantu perusahaan mengamankan aliran dananya.

Tujuan-tujuan ini harus bisa dikorelasikan dengan materi-materi yang ada dalam sebuah mata kuliah. Sehingga, mahasiswa memiliki arahan dan fokus, harus bagaimana dan seberapa jauh dia memahami mata kuliah tersebut.

Pada tingkatan menengah, arahan dan fokus ini akan membawa mahasiswa bisa lebih mudah memahami mata kuliah. Sehingga, kalaupun di tengah jalan kurang bisa dalam menguasai teorinya, walaupun tidak sedang mengikuti kuliah, dia bisa belajar dengan sendirinya di lain waktu. Bukan lagi untuk sekear mengejar nilai, akan tetapi mengejar pemahamannya, karena bisa jadi dia merasa bahwa ilmu tersebut mungkin akan sangat bermanfaat di kemudian hari.

Nah, pada tingkatan yang lebih tinggi, karena sudah memahami filosofi, teori dan teknis mata kuliah tersebut, maka akan tercipta dengan sendirinya inspirasi-inspirasi baru dalam fikirannya. Otak bawah sadarnya akan menemukan ide-ide baru untuk mengembangkan ilmu yang sudah dikuasinya tersebut, sehingga akan memunculkan inovasi terus menerus. Inovasi-inovasi inilah yang sebenarnya amat sangat penting dan bermanfaat bagi dirinya maupun lingkungannya kelak. Baik untuk pembuatan tugas akhir, karya ilmiah, kepentingan karir maupun kepentingan bisnis di masa depannya.

Inilah yang perlu kita mestinya kita renungkan bersama. Semoga bapak dan ibu dosen yang sedang mengemban amanah saat ini, dan kita semua, sama-sama memikirkan hal ini. Sehingga output lulusan Teknik Informatika di masa yang akan datang, tidak sekedar bisa menguasai mata kuliah yang ada, namun bisa mengembangkannya lebih jauh lagi. Menjadi produk-produk baru, atau karya-karya baru yang bermanfaat untuk dirinya dan bangsanya.

4 Tanggapan

  1. bener mas inovasi intinya.. tapi yang nyata .. bukan sebatas penjelasan tujuan mata kuliah atau impian yang tidak pernah tercapai.. kerja nyata dari kerjasama dosen dan mahasiswa.. dimana dosen memiliki pengalaman dan mahasiswa memiliki semangat…jika dijadikan satu .. maka tidak akan ada yang tidak mungkin.. jadi ada target jelas.. minimal ditiap lab.. sekarang saja.jangankan riset, menjenguk ke lab atau menegur admin jarang sekali. tapi tidak menyalahkan dosen juga, mungkin karena perbandingan mahasiswa yang diterima dan porsi mengajar yang tidak imbang. jadi mungkin dari jurusan harusnya bisa mengukur banyaknya dosen dan mahasiswa yang diterima. kalopun jurusan lagi butuh uang, akan lebih baik dapat uang dari hasil riset. bukan dengan mengambil jumlah mahasiswa baru yang banyak sehingga memberatkan beban dosen ngajar. jumlah mahasiswa sedikit, lalu dosen ga terlalu berat ngajar, dosen bisa riset , dan mengajak mahasiswa kerjasama. jadi yang kurang adalah bentuk kerjasama dari mahasiswa,dosen dan jurusan. mereka sebenarnya memiliki kepentingan yang saling berhubungan yang bisa dipecahkan dengan inovasi / riset.

  2. saya pegen tanya ne…
    klo seandai’y g pgen ambil jrusan programming..
    apa manfaat’nya n apa mungkin ada kendala’y

    • Ya berarti harus belajar dulu manfaat programming, jangan ambil dulu lalu baru belajar manfaatnya. Tapi Insya Allah semua ilmu bermanfaat jika dilakukan dengan serius dan sungguh2… Amiin.

  3. betul sekali mas ..

    segala sesuatu harus dipahami lewat filsafat,
    apalagi mengenai pendidikan atau keilmuan, kita perlu mengkritisi
    ilmu-ilmu kita, apakah sesuai dengan epistemologi ilmu atau kita
    hanya di-cucuk hidung untuk berperilaku sesuai ilmu yang ada di
    ”textbook” kita, tanpa pengkritisan,,,

Tinggalkan Balasan