Fenomena Mbah Surip (dari kemunculan sampai meninggal), yang kemudian disusul dengan fenomena teror oleh Noordin M Top, sepertinya punya arti tersendiri terhadap perubahan pada diriku. Keduanya memiliki latar belakang yang bertolak belakang, namun menurutku keduanya sejatinya sama-sama ingin menyampaikan sebuah ‘kebaikan’ atau ‘kebenaran’. Tentu kebaikan dan kebenaran disini dalam arti yang sangat presepsional.
Aku pernah belajar dan memahami makna perjuangan ‘aliran’ Noordin M Top tersebut, jadi aku bisa memahami jika orang-orang di sekitar Noordin tidak (terlalu) menganggap langkah Noordin tersebut sebagai sesuatu yang (amat) salah. Dan kebanyakan mereka rata-rata di kehidupan sehari-hari adalah memang orang baik. Bahkan di lingkungan pesantren, dan dikelilingi oleh ustadz-ustadz atau kyai. Jadi apa yang sudah dilakukan oleh mereka, tidak mungkin berniat jahat, bahkan mungkin diniati ibadah.
Disinilah letak permasalahannya, salah dan benar. Karena persoalan pendapat salah dan benar, bisa jadi akhirnya harus memaksakan suatu pendapat, sikap, atau tindakan kepada orang lain yang dianggap tidak benar. Karena preseps/prinsip/pendirian salah dan atau benar, kelompok satu dan lainnya tidak bisa saling akur. Yang mestinya menebarkan dakwah, menjadi menebarkan kebencian, atau ketidaksukaan.
Masjid, yang mestinya bisa menjadi sarana beribadah bersama, kadang malah menjadi awal perselisihan, karena orang-orang yang diberi amanah memegang urusannya, ternyata berbeda prinsip dalam menjalankan ibadah. Mereka saling tidak suka, karena masing-masing tidak bisa saling memahami atau menemukan titik temu agar bisa bersama lagi. Si Fulan kini tidak suka terhadap si Fulani, karena si Fulani sudah tidak sesuai dengan pripsip hidup si Fulan. Padahal mereka semua sama-sama mencintai Tuhan mereka.
Fenomena Mbah Surip
Mbah Surip? Tidak pernah mengatakan benar dan salah. Tidak pernah pula mendalil. Saya juga tidak tahu apakah beliau menjalankan sholat lima waktu secara tertib atau tidak. Sholat malamnya bagaimana? Sering jama’ah atau nggak? Wallaahu’alam. Mbah Surip hanya menebarkan cinta, kepada yang membenci dirinya atau yang menyukai dirinya. I love you full yang dikumandangkan, tidak saja diarahkan ke orang yang suka kepadanya, tapi juga yang tidak suka terhadapnya.
Dan, kini masyarakat ternyata lebih memilih figur seperti mbah Surip yang ingin menebarkan cinta daripada yang sekedar menebarkan kebenaran. Dan mungkin, ini harus jadi prioritas langkah para penegak kebenaran (guru, ustadz, kyai) dan kita semua agar lebih mengedepankan cinta daripada menyuarakan kebenaran.
Menurut pendapatku, dengan cinta kebenaran akan bisa disampaikan dengan ikhsan. Dan mungkin sesekali para ustadz atau kyai, dikit niru langkah Mbah Surip. Keluar dari sangkar pesantren, jalan-jalan ke pasar, nongkrong di warung kopi, ke mall, alun-alun, dengan pergaulan seperti orang biasa. Tidak sekedar menunggu di pesantren, dan menunggu orang datang untuk mengaji dan mencium tangannya.
Sebelum ada inspirasi tulisan ini, aku juga sempet marah dan tidak suka terhadap jajaran kyai yang bersikap seperti raja atau ningrat. Duduknya di singasana, kalau dicium tangannya ada yang dilepas (tidak mau dicium), ada yang diterima. Hanya orang-orang tertentu (yang sekelas) yang bisa bertemu, orang biasa sulit bertemu atau bersikap di depannya. Harus pegang etiket menghadap ke kyai. Walah…
Aku juga punya banyak sekali daftar yang tidak sukai lho, seperti :
- Akku pernah merasa kecewa dengan mantan guruku, yang memiliki sikap tidak seperti yang kuharapkan.
- Aku tidak suka terhadap pengurus masjid yang memaksakan cara ibadah mereka, dan menyingkirkan kelompok lain yang tidak sepaham.
- Aku tidak suka terhadap para ustadz yang sok ngustadz, dan bahasanya ke arab-arab’an lagi.
- Aku tidak suka terhadap teman sajawat saya yang menganggap saya tidak lagi memperhatikan agama, karena sibuk berbisnis.
- Aku tidak suka karyawan yang selalu saja menuntut, tapi kinerjanya gak ditingkatkan.
- Aku tidak suka sikap Noordin, membela agama kok dengan mengebom.
- Dan masih buanyak lagi, rasa tidak suka lainnya…
Tapi, setelah itu aku berfikir, sesalah apapun aku harus tetap bisa mencintai mereka, sekalipun merka tidak bisa seperti yang kuharapkan. Setiap orang punya kelemahan, sekalipun presiden, sekalipun kyai, yang kita harus ingatkan. Walaupun bisa jadi kita yang mengingatkanlah yang salah. Hahah..
Dengan membalik menjadi cinta, ternyata semua menjadi ringan. Aku bisa lebih berani menghadapi semua resiko psikologis yang akan terjadi. Lebih banyak ide solusi dan inspirasi kata-kata dan logika untuk mengerti orang lain. Dan lain sebagainya …
Coba saja…
salam, sy Agus Suhanto, posting yang/yg oke
… salam kenal yaa
Sama -sama mas Agus.