Berteman Dengan Aparat

Bagi seorang pengusaha, berteman dengan aparat (pejabat pemerintah, kepolisian atau kejaksaan) memang sangat bermanfaat. Ada banyak kepentingan yang bisa diselesaikan dengan mudah. Apalagi dengan kondisi birokrasi yang rumit seperti sekarang ini, menimbulkan kondisi psikologis yang membuat kita seolah-olah membutuhkan kedekatan tersebut. Apalagi yang proyek atau dagangannya bergesekan dengan kebijakan-kebijakan para aparat tersebut. Misalnya usahanya Anggodo Widjoyo yang kata Jawa Pos bisnis kayu jati, yang sekarang ini memang amat dipegang kendali oleh para penegak hukum.

Bisnis lainnya seperti pengadaan barang, pengadaan infrastruktur, termasuk Teknologi Informasi di kalangan pemerintah juga sangat rentan dengan kebutuhan kedekatan seperti ini. Kalau tidak dekat, ya gimana kita bisa dapat proyeknya? Kalau nggak dekat, ya gimana bisa mengeluarkan kayu jati yang saat ini diproteksi bener? Wong tetangga2 saya di Banyuwangi sana ditangkapi karena juga membalak kayu jati.

Kondisi ini, bagi para pengusaha amat dilematis. Istilahnya, jika gak ikut edan, ya gak keduman. Karena kondisi birokrasi yang dianggap edan itulah, para pengusaha juga banyak yang ikut-ikutan edan juga. Ya kalo nggak ada mental yang kuat, tentu banyak yang tidak bisa bertahan.

Sementara di kalangan para aparat, juga menjadi kebutuhan. Jika tidak berteman dengan pengusaha, mana cukup dengan hanya gaji PNS ? Maksudnya cukup untuk beli mobil, beli rumah bagus, dan lain-lain. Akhirnya ya berusaha cari-cari ceperan.

Hidup memang dari keyakinan, jika keyakinan seorang pengusaha seperti di paragraf di atas (gak edan gak keduman), maka ya dipastikan dia akan ikut2an edan. Sama seperti para aparatnya, jika dia berkeyakinan ‘mana cukup kalau hanya dari gaji PNS’, ya pasti gak akan cukup terus.

Aku sendiri, dari pertama memilih untuk menghindari hal tersebut, tentu berangkat dari keyakinan juga. Daripada bersentuhan dengan hal-hal yang subhat, mending aku merintis usaha yang gak ada faktor legitimasi kekuasaan. Istilahnya, gak pakek approve mereka, gak pakek izin-izinan, gak pakek licin-licinan, tapi masih bisa memperoleh proyek atau penghasilan.

Aku pernah mencoba hal-hal kecil (karena bisanya memang yang kecil), tapi tetep saja sulit terhindar dari masalah tersebut. Tapi yang ini kebalik, agak lucu.

Ceritanya begini :

Aku dapat proyek pengadaan komputer di sebuah perpustakaan pemda. Nah, dari pemdanya dianggarkan 12 juta untuk 2 komputer. Tapi menurutku 12 juta itu dapat tiga komputer. Nah, akhirnya aku memaksa aku belikan 3 komputer. Tapi mereka minta ttp dibelikan 2 komputer saja, karena itu sudah standarisasi dari kantor katanya. Yah, akhirnya aku ngalah juga tohh.. tetep edan juga toh! Wong mana ada logikanya orang beli dua dikasih tiga tapi ditolak!!

Dari situ aku akhirnya malah takut terseret-seret, akhirnya aku mundur gak jadi bisnis-bisnisan. Cari yang lain saja.

Beberapa tahun aku jadi karyawan, dan pernah mencoba beberapa kali mundur untuk mencoba usaha sendiri, dan beberapa kali gagal dan akhirnya balik lagi jadi karyawan. Itu berlangsung selama 5 tahun. Dan setelah itu, akhirnya Allah SWT menunjukkan jalan rejeki, dan punya usaha sekarang yang 100% tanpa campur tangan pemerintah dan aparat bisa jalan. Kalau produknya bagus ya silakan beli, kalau jelek ya gak usah dibeli. Alhamdulillah gak ada edannya… keyakinan itu terjawab setelah tahun ke-6.

———————-

Nah, belakangan aku membuka usaha baru dan itu agak bergesekan lagi dengan aparat. Mulai dari perizinan, pembebasan lahan, keamanan lingkungan dan lain-lain. Aku mulai agak takut juga, tapi ya mudah-mudahan aku tetepa memiliki keyakinan itu dan terlindungi dari hal-hal yang edan-edan…

Suatu ketika aku meminta bantuan juga akhirnya ke Bpk X, yang bertugas di Polda Jatim, kebetulan bertetangga, untuk mengusir para penyewa lama yang gak mau pindah. Karena aku sendiri tidak mau transaksi diluar kewajaran dengan mereka (yang kebetulan orang madura). Wong kita yang punya tanah, kok kita yang membayar mereka (untuk pindah). Dia meminta anak buahnya (reserse) di polres untuk membantu saya.

Tapi Alhamdulillah, beliau tipe polisi yang menjaga amanah, sehingga tidak ikut-ikut seperti oknum edan lainya. Saya sendiri tidak ngasih apa-apa waktu itu ke polisi tersebut, tapi Bapak pernah mencoba memberi dan Alhamdulillah beliau menolak. He2, apa kurang banyak kali ya ..

Sampai suatu ketika aku butuh lagi untuk keamanan lingkungan. Aku sendiri menyadari tidak mungkin aku menghandle para preman lingkungan sendirian. Akhirnya aku kontak lagi temen reserse tersebut (anak buah Bp X) untuk membantu saya.

Tapi aku tanya secara lugu kepada beliau, bahwa aku gak bisa kasih apa2 untuk bantuan yang kemarin (masalah pengusiran), soalnya aku bingung, ini transaksinya akadnya gimana. Kan dia bertugas dikepolisian, sudah sewajarnya membantu masyarakat. Jadi kalo aku ngasih, itu transaksi model apa, itu yang aku permasalahkan.

Dan Alhamdulillah, dia tidak mempermasalahkannya (gak tau ikhlas menerima apa nggak). Kemudian aku menyusun strategi, bagaimana agar bisa membalas budi beliau, tapi transaksinya jelas. Akhirnya aku menyerahkan kepada beliau manajemen parkir dan keamanan untuk tempat usahaku nanti, dan kita akan bagi hasil.

Alhamdulilah, akhirnya aku menemukan akad yang jelas, dan sepeserpun aku tidak memberi apa yang tidak menjadi haknya. Dan apa yang sudah menjadi kewajibannya.

Kesimpulannya kedekatan dengan aparat memang dibutuhkan, tapi jika kita memiliki keyakinan, Insya Allah akan selalu ada jalan dibaliknya.

Tinggalkan Balasan