Agak prihatin juga membaca berita demo bbrp komponen masyarakat yang mendukung adanya investasi tambang di Banyuwangi 15 Desember 2008 yang lalu, walaupun sepertinya memang suruhan. Ketika itu mereka mendemo DPRD Banyuwangi agar meloloskan investasi eksplorasi PT IMN di Banyuwangi agar atau demi iklim investasi di Banyuwangi tidak dianggap buruk.
Yang perlu dipahami, sebenarnya investasi itu dibagi dua macam. Yang menguntungkan (memberdayakan) atau merugikan (memperdayai) daerah/rakyat itu sendiri.
Mudah saja sih, yang memberdayakan adalah yang menambah kekayaan daerah, yang memperdayai adalah yang mengeruk sumber daya kekayaan atau keuangan daerah.
Nah, yang mestinya didukung pemerintah adalah investasi yang memberdayakan, sedangkan yang mestinya dibatasi/ditolak adalah yang memperdayai tsb. Karena hanya akan merugikan daerah itu sendiri, jangka pendek atau yang secara umum adalah jangka panjang.
Jadi tidak semua kran investasi itu harus dibuka lebar-lebar.
Beberapa contoh investasi yang paling bagus dari sisi pemberdayaan adalah industri atau pabrik pengolahan hasil-hasil pertanian, peternakan, perikanan atau perkebunan. Hal ini karena Indonesia adalah negeri agraris dan mayoritas profesi rakyat Indonesia adalah petani, peternak dan nelayan. Sehingga adanya satu industri akan sangat banyak komponen masyarakat yang terlibat. Apalagi yang bisa dieksport, selain mendorong perputaran uang dalam negeri dalam jumlah besar, juga bs meningkatkan devisa.
Contoh Garuda Food di Pati yang mengolah produk2 kacang dan sejenisnya jadi aneka macam kue, Sido Muncul di Karang Asem-Solo yang memanfaatkan rempah-rempah jadi jamu, Sarintex di solo dan lain-lain.
Kedua, investasi yang bisa membendung produk asing masuk ke daerah kita. Seperti pabrik maspion, Mobil Esemka, National Panasonic, Wings, Pertamina dan lain-lain. Sehingga dengan memproduksi sendiri, perusahaan dalam negeri, produk luar akan berpikir ulang untuk masuk ke dalam negeri, tidak sampai beli dari perusahaan asing atau import. Sehingga uang tetap terjaga tidak sampai keluar negeri.
Ketiga, investasi yang meminimalisasi keluarnya kekayaan keluar daerah kita. Seperti industri transportasi / pabrik mobil seperti Astra Internasional. Walaupun misalnya harus menggunakan tenaga ahli asing atau mengimport komponen-komponen asing, akan tetapi dengan diproduksi di Indonesia arus uang bisa sedikit banyak dikurangi ke luar negeri.
Ini artikel lain dari jawapos untuk tambahan wacana investasi dan pemerataan.

