Archive for category Renungan

Berani dan Kuat

Hitam dan putih, kebenaran dan kebathilan akan selalu bertarung sepanjang waktu. Ada kalanya kita menyadarkan, ada kalanya kita harus melawan yang hitam, tapi jangan mudah menghindar, kecuali memang betul-betul kita pasang kuda-kuda, karena mereka akan lebih mudah menang karena jumlah (kwantitas).

Di banyak kelompok masyarakat Indonesia terutama yang bergesekan dengan politik, baik di ormas, forum, birokrasi, atau partai politik kelompok hitam menggunakan segala cara untuk menjatuhkan kelompok putih, itu karena mereka tidak memiliki standar etika dalam bertarung.. Sedangkan kelompok putih tidak bisa menggunakan segala cara, ada etika yang harus dipatuhinya..

Pralambangnya jelas sekali dalam gambar yin-yang ini. Kelompok hitam hanya sedikit punya nilai kebaikan, hanya sedikit titik putih. Sedangkan kelompok putih hanya memiliki sedikit titik hitam, mayoritas sebenarnya putih. Tapi kelompok hitam seringkali mengungkit-ungkit  sedikit  hitam ini sebagai senjata untuk menyerang atau mencoreng nama baik kelompok putih. Bahkan dengan kasar dan kata-kata yang menyakitkan. Tidak saja kelompok mereka yang menyerang, tapi opini masyarakat umum juga diarahkan untuk ikut-ikutan menyerang.

Sedangkan kelompok putih, walaupun tahu begitu banyak noda hitam di kelompok lawan, dia tidak bisa atau tidak tega untuk menyebutkannya sama seperti kelompok hitam kepada kelompok putih. Karena memang itu berlawanan dengan prinsip yang dianutnya, untuk selalu mengingatkan orang dengan niat dan cara yang baik.

Model serang-menyerang ini sering terjadi atau sudah umum di Indonesia. Sedikit saja orang baik ketahuan memiliki cela, maka akan dibombardir oleh pihak-pihak lawan. Dijadikan bahan untuk menjatuhkan kelompok putih. Hal-hal atau kesalahan sepele bisa berakibat fatal, tak terbendung caci-maki dan cela yang dikeluarkannya.

Walaupun tampaknya serang-menyerang keburukan kelompok lawan ini sepertinya sengit, tapi mudah hilang ditelan issu. Pada akhirnya juga hilang-hilang sendiri, dari waktu ke waktu selalu berganti topik dan tidak jelas hasil akhirnya.

Tapi mau tidak mau, model inilah yang sering membuat kelompok putih menghindar dari arena pertempuran, mereka risih atau tidak bisa mengikuti permainan yang ada. Permainan yang tidak pandang bulu, tidak pandang etika. Tidak cocok menurut hati nurani mereka. Biarlah dunia politik atau dunia birokrasi diisi oleh orang-orang hitam, orang-orang brengsek, yang penting tidak ikut-ikutan.  Biarlah aku berjuang diluar sistem. Alasan mereka klise, tidak mau masuk dalam kultur, tidak ingin terkooptasi iklim yang sudah busuk, belum saatnya dan seterusnya. Hanya sedikit yang bisa bertahan dan menjalankan politik secara bersih. Biasanya mereka yang bertahan memiliki kepribadian yang tangguh, tahan banting, dan memang memiliki reputasi yang sangat bagus.

Harus Berani dan Kuat 

Jika yang mengisi lahan birokrasi dan politik mayoritas kelompok hitam, atau orang-orang brengsek, maka kapan kita akan memiliki Indonesia yang lebih baik?

Kelompok putih, atau Anda yang merasa masih memiliki kredibilitas dalam menegakkan kebenaran, harus berani dan kuat. Berani maju ke medan perang, dan kuat menahan gempuran dari kelompok hitam.   Ada sedikit tips agar kita kuat di medan tanpa etika tersebut. Antara lain :

  1. Konsistensi dalam sikap dan perbuatan, dimana saja. Dalam berbicara serius atau bercanda, dalam offline atau online, usahakan sikap dan ucapan kita sama. Karena sekali kita bicara melenceng dari kebiasaan, walaupun dalam candaan, mereka akan mencatatnya.
  2. Tak perlu menghindari debat atau tuduhan, tapi jangan mengikuti cara atau pola mereka.  Seringkali kelompok hitam menggunakan cara-cara tidak beretika, menyerang pribadi, mengumpat atau mengata-ngatai kotor. Tapi kita harus tetap bertahan tidak emosi, tak perlu menyerang balik, dan fokus pada persoalan. Lama-lama pasti capek sendiri.
  3. Akui tuduhan jika memang itu benar, lalu memohon maaf atas kekhilafan tersebut, ini akan semakin membersihkan noda kecil di tubuh kita.  Tak perlu membuat sangkaan-sangkaan, walaupun secara jangka pendek membuat diri kita seolah-olah rendah, tapi secara jangka panjang akan membuat kepercayaan masyarakat tumbuh kepada kita, dan memaafkan kesalahan sedikit tersebut.
  4. Hindari berasumsi, kembalikan semua pendapat pada hukum, agama atau tatanan masyarakat yang berlaku. Ini akan membentuk kita seolah-olah menutup mata akan niat baik atau buruk seseorang.
  5. Tempatkan nurani diatas hukum atau pengetahuan. Seringkali masyarakat atau orang awam tidak memandang dasar hukum, tapi mereka melihat tingkat keperdulian atau hati nurani kita dalam memandang sesuatu. Barulah kita sadarkan (jika memang momennya ada)..
  6. Tak perlu takut dikatakan ‘sok’ atau pandangan sinis ketika kita bicara idealisme. Senjata kelompok hitam selalu mengatakan orang yang berprinsip (yang berkata berdasarkan hukum, agama, dan etika) dengan kata ‘sok’. Sok alim, sok baik, sok jagoan, dan lain-lain. Ketika konsistensi itu kita pegang, prasangka sok tersebut akan lama-lama hilang dengan sendirinya.

Ok. Sedikit tips inilah yang sebenarnya membuat saya pribadi ingin aktif di partai. Sayangnya, kondisi keluarga dan kantor belum bisa ditinggalkan. Semoga teman-teman semua lebih berani dalam mengambil sikap dan maju di tengah-tengah orang brengsek di negeri ini dengan tangan yang mengepal menjunjung tinggi kebenaran.

Catatan : Kelompok Hitam dan Kelompok Putih adalah tataran ide, tidak ada maksud menyudutkan salah satu pihak.

Ini pesan Allah yang berhasil saya kutip :

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An-Nahl (16) : 125)

Salam Perjuangan!

6 Komentar

Amar Ma’ruf vs Nahi Munkar

Amar Ma’ruf (mengajak ke kebaikan) dan Nahi Munkar (mencegah kemungkaran) adalah salah satu wujud jihad, keutama’an bagi kaum mukminin. Tentunya dengan didasari Iman, sesuai dengan QS Al-Imron : 110. Akan tetapi, ada sebagian manusia yang mengajak ke kebaikan atau mencegah kemungkaran (kejahatan), hanya didasari naluriyah atau fitroh sebagai manusia. Sehingga ada kemarahan, kekecewaan atau emosi di dalamnya, ketika tujuannya tidak tercapai, atau ada banyak ditemui penghianatan di dalamnya.

Adanya pengianatan atau kegagalan, dalam sebuah perjuangan adalah cobaan. Tentu jika kita beriman kepada Allah, kita tahu adanya coba’an ini hanyalah sebagai ujian saja bagi manusia. Jika kita ikhlas, tidak ada yang perlu disesali, tidak perlu kecewa terhadap keadaan, terhadap orang-orang di sekeliling kita, kita tetap semangat pantang menyerah, karena memang hanya ridho Allah yang kita harapkan, itulah sebenarnya tujuan hakiki yang Allah harapkan sebagai simbol, wujud atau tanda kelulusan kita.

Adalah hak Allah, apakah perjuangan kita akan berhasil saat ini, nanti, atau justru tidak akan pernah berhasil. Yang diharapkan Allah dari kita adalah mengajak ke kebaikan, dan mencegah atau melawan kemungkaran, dengan hati, ucapan, atau perbuatan (tangan). .

Dalam tatarannya, nahi mungkar (melawan kebathilan) acap kali memang lebih dahsyat coba’annya daripada amar makruf. Bisa berupa tekanan, intimidasi, atau bahkan pembunuhan. Tentunya, hanya manusia-manusia istimewa yang bisa melakukannya, dan tetap mampu bertahan dalam perjuangan.

Kita lihat saja di sekitar kita. Munir dibunuh (diracun) di pesawat, sopir-sopir Susno Duadji yang ditabrak mati oleh orang tak dikenal, pembunuhan agung Safrudin Kartasasmita, rekayasa pembunuhan Nasrudin untuk memojokkan Antasari, adalah beberapa contoh kasus besar yang berhasil terekspos di media massa. Tentu masih banyak cerita tak terekspos lainnya di negeri kita.

Sahabat-sahabat terdekat kita sendiri, yang sedang aktif advokasi menuntut pemberhentian tambang tumpang pitu juga sering menerima tekanan dan intimidasi. Saya sendiri tidak tahu pasti, berapa yang sudah menjadi korban, baik kehilangan nyawa, tekanan fisik, atau mental yang dilakukan pihak-pihak yang berkepentingan. Karena memang korbannya bukan ‘orang besar’.

Yang pasti, dalam setiap sejarah, moment atau tempat dimanapun berada, ini adalah sunnatulloh yang tak bisa kita hindari.

Bagaimana agar kita terhindar?

Sejarah membuktikan, ancaman dan intimidasi ini juga tak kalah dahsyat dialami Rosululloh dalam perjuangannya menegakkan dienul Islam. Tapi Nabi bisa selamat sampai akhir hayatnya. Betapa dia juga menghindar ketika dikepung oleh kaum Quraisy, dan berlindung di gua Tsur. Dan kaum Quraisy tak mampu menemukannya, walaupun sudah persis di depan gua tersebut. Ini sangat jelas Allah-lah melindungi Nabi, bukan sekedar karena keberhasilan strategi Nabi Muhammad.

Baca sejarahnya disini : http://jalantakwa.blogspot.com/2011/03/kisah-rasulullah-ke-gua-tsur.html

Ini memberikan pelajaran kepada kita  bahwa jangan remehkan atau lupakan perlindungan Allah SWT dalam berjuang. Amat mudah bagi Allah untuk menutup mata musuh-musuh kita agar tidak menggangu kita atau keluarga kita.

Aku sendiri sebenarnya bukanlah orang berani, yang bisa lantang mengucapkan kebenaran di depan orang. Bahkan saya takut jika ada orang marah kepadaku. Istri dan anak-anakku juga takut, orang tua juga takut. Akan tetapi, hal ini aku imbangi dengan senantiasa memohon kepada Allah, agar aku dan mereka mereka semua dilindungi dari orang-orang jahat. Sehingga aku bisa lebih merasa aman dan leluasa dalam menyuarakan dan memperjuangkan kebenaran.

Allah tahu aku begini, dan aku yakin rekayasa Allah jaauh lebih canggih melebihi rekayasa yang dibuat manusia, sehingga tidak ada cobaan Allah yang melebihi kemampuanku. Allaaahu Akbar.

Lalu kita ingat juga, ketika Nabi Muhammad SAW diancam oleh Da’tsur, dengan pedang terhunus yang hendak membunuhnya. Mungkin kalau sekarang, ditodong pistol atau senjata laras panjang di dahinya. Da’tsur saat itu berkata : “ Siapa yang menghalangi diri saya, kalau saya ayunkan pedang ini ke lehermu, Muhammad ? “ Nabi menjawab : “ Allahu Akbar !, ( hanya Allah Yang Maha Besar ). Dengan teriakan takbir Nabi, pedang terjatuh, lalu dengan refleksi yang lebih cepat, pedang berada di tangan Nabi.

Dibutuhkan kekuatan iman yang luar biasa, bahwa Allah akan selalu ada di belakang kita. Yang akan mampu, bahkan, melakukan apapun untuk melindungi kita jika Dia berkehendak. Asalkan kita jangan pernah mengecewakan-Nya.

Semoga sedikit cerita ini dapat bermanfaat dan memberikan semangat bagiku dan rekan-rekan semua dalam komitmen perjuangan.

Tinggalkan sebuah Komentar

Jika Barat mengandalkan akal, kita mestinya mengandalkan do’a

Berdo'a

Berdo'a

Maaf ini 100% tidak guyonan. Bagi kaum beriman, do’a adalah senjata yang sangat ampuh, lebih ampuh daripada riset manapun. Allah SWT sendiri menjamin, bahwa apapun yang kita minta, Dia akan kabulkan! ” dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan…………… ” QS Al Mu’min ayat 60. Ini adalah sebuah janji Allah yang mutlak yang tidak mungkin diingkari oleh Allah Swt. Karena sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji .

Sekarang, tinggal kita bersungguh-sungguhkah dalam do’a kita? Pahamkah kita arti dari setiap ucapan dalam gerakan sholat yang kita lakukan sehari-hari? Yang hampir seluruh isinya adalah kepasrahan, pujian dan do’a. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

Aku ingin menulis buku

Rasulullah mengajarkan agar kita menyayangi yang muda dan menghormati yang tua. Jadi, aku juga ingin bisa menyayangi yang muda. Maka dari itu aku ingin menulis buku untuk yang muda-muda, ingin bercerita tentangku atau teman-temanku yang sukses, maupun bagian aku dan temanku yang gagal. Sehingga mereka bisa menerima pelajaran dari semua itu. Baik dalam pendidikan, asmara, bisnis, politik maupun rumah tangga.

Setiap orang bisa sukses dalam suatu hal, tapi bisa jadi gagal dalam hal lainnya. Jadi, yang bisa kita lakukan hanyalah meminimalisasi kegagalan tersebut, dan memaksimalkan keberhasilan. Bukan harus berhasil dalam setiap lini kehidupan.

Baca entri selengkapnya »

, , ,

4 Komentar

Mbah Surip, Pak Kyai dan Ustadz

Fenomena Mbah Surip (dari kemunculan sampai meninggal), yang kemudian disusul dengan fenomena teror oleh Noordin M Top, sepertinya punya arti tersendiri terhadap perubahan pada diriku.  Keduanya memiliki latar belakang yang bertolak belakang, namun menurutku keduanya sejatinya sama-sama ingin menyampaikan sebuah ‘kebaikan’ atau ‘kebenaran’.  Tentu kebaikan dan kebenaran disini dalam arti yang sangat presepsional.

Aku pernah belajar dan memahami makna perjuangan ‘aliran’ Noordin M Top tersebut, jadi aku bisa memahami jika orang-orang di sekitar Noordin tidak (terlalu) menganggap langkah Noordin tersebut sebagai sesuatu yang (amat) salah. Dan kebanyakan mereka rata-rata di kehidupan sehari-hari adalah memang orang baik. Bahkan di lingkungan pesantren, dan dikelilingi oleh ustadz-ustadz atau kyai. Jadi apa yang sudah dilakukan oleh mereka, tidak mungkin berniat jahat, bahkan mungkin diniati ibadah. Baca entri selengkapnya »

2 Komentar

Kehati-hatian dalam berdo’a

Berdo’a sangat dianjurkan dalam agama Islam, bahkan Allah sangat senang sekali jika hamba-Nya sering berdo’a / meminta kepada-Nya. Akan tetapi, terkadang masih terjadi salah kaprah, jika do’a yang dilantunkan tidak disertai dengan ilmu dan iman yang cukup. Untunglah Allah maha tahu isi hati manusia, sehingga tidak semua do’a serta-merta dikabulkan atas dasar kalimat yang diucapkannya. Jadi, jangan bersedih wahai manusia, jika do’a kita kadang tidak terkabul, karena bisa jadi do’a kita yang salah, dan Allah lebih memilihkan jalan lain yang terbaik buat kita. Baca entri selengkapnya »

,

2 Komentar

Relativitas dan Kesenjangan

Dalam kehidupan ini ternyata banyak sekali relativitas hidup. Saya baru saja bekerjasama dengan orang yang menurut saya ‘sangat kaya’. Dia adalah pengusaha dealer handphone kelas nasional. Jaringan bisnisnya menyebar seantero kota di Indonesia. Padahal saya sudah banyak mengagumi kekayaan teman-teman saya sebelumnya, yang menurut saya sudah cukup kaya. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.