Manajemen pujasera/cafe

  1. Lampu dalam harus lebih terang dari luar. Ciptakan bbrp lampu yg kelihatan, biar terjadi pantulan. Tapi tidak terlalu menyilaukan. Contoh : lampu sorot ke tembok. Atau lampu temaram yg kelihatan dari luar (lampu yg menggantung). Lampu utk cahaya tetap baik yang sorot atau doorlight. Tapi jangan terlalu lux/mewah.
  2. Jangan ada lampu luar yang menyilaukan mata baik di dalam atau diluar. Jadi kalaupun ada TL jangan yg menyorot tamu datang. Kalau bs disembunyikan.
  3. Jangan banyak stand yang menutup pembeli. Kalau bisa stand2 di belakang. Contoh cafe makmu. Tapi kalau gak bs, bisa diatur lagi. Misalnya, lahan parkir dimaksimalkan diatas sungi, sementara parkir sekarang bs sebagian untuk rombong.
  4. Ruangan jangan terlalu terang, tapi cahaya cukup buat makan. Contoh bagus lampu-lampu di Kampoeng Steak nginden. Jadi sorot ke bawah. Kalau bisa jika doorlight, maka lampunya dibikin masuk.
  5. Jangan terlalu banyak lampu putih. Gunakan semaksimal mungkin lampu kuning. Tapi bbrp boleh putih.
  6. Kedisiplinan stand. Terlalu disiplin akan membuat pemilik stand jadi gak enak, tapi kalau gak disiplin akan mengurangi pembeli. Contoh : stand sebenarnya wajib buka tiap hari, gak boleh libur, untuk menjamin customer yang datang tidak kecewa dengan persediaan stok. Juga stand yang tutup akan menganggu pemandangan. Jadi, ada baiknya dilakukan sistem denda jika ada stand yang memang harus tutup.
  7. Tidak boleh sembarang stand masuk. Filter harus kuat, agar selain menunya enak, juga pemiliknya bermental pengusaha. Tidak gampang libur, disiplin waktu, menjaga kebersihan, dll.
  8. Jangan banyak tempelan di kaca yang menutupi ruang dalam. Misalnya banner atau logo. Juga stand itu sendiri. Untuk nama merk cafe, bisa ditaruh di salah satu dinding dan disorot lampu.
  9. Dominansi ruanga kalau bisa : merah, kuning, krem, coklat, atau hitam. Hindari warna hijau, biru, ungu, atau putih.
Iklan

Tinggalkan komentar

Catatan Partai

Gagasan Partai

  1. Partai Platform/Partai Otonom. Jika selama ini partai dikendalikan dari pusat, maka dengan metode platform, maka akan tercipta aspirasi dari bawah, tidak lagi top down. Kader tidak dikendalikan pimpinan partai, tapi oleh masyarakat langsung. Maka dari itu partai tidak perlu kebijakan pusat yang mengontrol seluruh bawahan, sehingga partai dan kader adalah seolah-olah milik pimpinan, bukan milik rakyat.

    Setiap anggota bebas menentukan sikap atau pendirianya sendiri. Jadi tidak ada pandangan atau kebijakan partai pusat terhadap sebuah kasus atau isu publik. Anggota bebas berekspresi, berpendapat, dan bersikap terhadap sebuah kasus politik. Sedemikian juga, partai tidak bertanggung jawab terhadap sikap anggota. Akan tetapi, jika melanggar atau menyimpang dari prinsip-prinsip dasar partai atau keanggotaan, maka pengurus berhak memperingatkan atau memecatnya.

  2. Politik Simple & Murah. Berpolitik sebenarnya bisa murah, asalkan jangan memaksakan diri. Cukup jual program, perkenalkan, seadanya, biar rakyat yang memilih, tak perlu dipaksakan kalau belum nyampek waktunya. Di dalamnya mencakup :
    1. Jam kerja dewan partime saja, gaji separo dari sekarang. Jadi yang masuk adalah para tokoh masyarakat yang berkecukupan, dan tidak mengejar gaji.
    2. Tidak boleh menyuap ke atas dan ke bawah. Dalam pertemuan, maksimal kasih makan atau minum. Tidak boleh seperti : uang saku/transport, kaos, sembako, apalagi materi yang harganya mahal.
    3. Cukup Satu Periode. Menjadi anggota dewan cukup satu periode, periode berikutnya ganti orang lain, biar tidak terjadi ketergantungan.
  3. Keterbukaan dana partai.  Termasuk dana pribadi yang terpakai.
  4. Sederhana dan Santun. Target dan bicara seperlunya, tak perlu muluk-muluk. Sekeras-kerasnya bicara atau debat, jangan menyerang pribadi, jangan merendahkan orang, dll. Cinta sesama kader, tidak ada persaingan jabatan.
  5. Berbuat & Berkorban. Berlomba dalam khidmah dan pengorbanan untuk ummat, rakyat.
  6. Rumah Kaca. Ruang DPR/D harus menjadi rumah kaca, tiap hari harus bisa dilihat rakyat. Zaman sekarang sudah ada CCTV yang online kapan pun.

 

Syarat Angggota ( penggerak roda partai ).

Anggota partai bisa dipimpin bebas oleh siapapun, tidak ditunjuk oleh organisasi. Yang diurus organisasi cuman pengurus.

  1. Umur 25 – 50 th, kecuali pendiri seumur hidup kecuali menunjuk pengganti
  2. Sudah berkeluarga
  3. Aktif di masjid, gereja, atau pura (tidak boleh liberal).
  4. Untuk muslim, sholat 5 waktu. Untuk kristen aktif ke gereja tiap minggu. Dst
  5. Boleh membentuk cluster-cluster sendiri. Tidak harus dikoordinasi oleh pusat. Yang penting sudah terdaftar di partai.

 

Syarat Pengurus :

  1. Semua syarat anggota
  2. Bukan tokoh masyarakat, misalnya :
    1. Ustadz atau kyai yang memiliki murid/pengikut dewasa minimal 50 orang
    2. Kepala desa, kepala sekolah atau pesantren
  3. Diutamakan juga jadi pengurus di lembaga keagamaan, seperti musholla, masjid, atau gereja.

 

Syarat Caleg/Calon Caleg :

  1. Semua syarat anggota
  2. Tidak merokok
  3. Umur 30-50 th, sudah cukup dewasa.
  4. Aktif di media sosial, dan aktif bikin status atau dalam diskusi.
  5. Aktif di masyarakat, salah satunya ditandai dengan menjadi pengurus organisasi sosial, minimal 3 tahun sebelum mencalonkan.
  6. Tidak pernah membuat kriminal atau menyakiti anggota keluarga atau anggota masyarakat
  7. Tidak boleh menjabat anggota dewan sebelumnya.

Partai Otonom

 

 

Tinggalkan komentar

Kader Partai & Problematikanya di Indonesia

Praktek Kolusi Korupsi dan Nepotisme

Bentuk kepartaian di Indonesia, dan organisasi pada umumnya, saat ini adalah top down. Ada organisasi induk di pusat, dan cabang di daerah-daerah. Termasuk orang-orangnya. Ada orang-orang inti, non inti, dan orang-orang pendukungnya. Menyebar di daerah-daerah.

Pusat, adalah otak. Segala kebijakan dibuat disana, dan daerah adalah organ tubuh lainnya, jadi follower.

Sore itu kebetulan saya diskusi dengan salah seorang petinggi partai dalam sebuah forum. Betapa beratnya tantangan yang dihadapi para petinggi partai itu, karena memang menopang, menjadi tolak ukur kebijakan partai dibawahnya. Kalau bawahnya kabupaten, tekanannya ya sekelas kabupaten, kalau propinsi, tekannnya ya level provinsi, kalau nasional ya makin berat, kelasnya nasional.

Contohnya demikian. Sekarang dia diposisi oposisi, berhadapan dengan penguasa. Penguasa, yang tentu saja lagi berkuasa, apalagi penguasa dholim, tentu tak ingin kekuasaannya hilang begitu saja. Apapun dilakukannya untuk mempertahankan kekuasaannya. Dipanggillah para petinggi partai ini. Lalu diberikan dua opsi pilihan (sebenarnya mirip ancaman). Jika kerjasama, maka kamu akan aku kasih dana besar, dan jika melawan, maka akan aku cari salahmu, dan kupakek perangkat keadilan negeri ini untuk mengejar kamu. Niru-niru fir’aun lah, main ancam ke Musa.

Praktek ini, antara tawaran – uang, kekuasaan, jaminan keamanan – dan ancaman, adalah hal biasa terjadi di Indonesia. Ancaman itu macam-macam, dari tingkat sederhana, halus, sampai tingkat kasar. Jika tak kuat dengan kondisi ini, ya, akhirnya mengikuti arus. Maka tak heran, banyak politikus baik, tapi gak kuat mental, akhirnya tersingkir. Main di tepian pantai yang aman dari gelombang. Atau main mengikuti arah gelombang kemana bergerak, tak peduli dengan suara rakyat diseberang pantai sana yang mengharapkan kepeduliannya.

Lalu, jika kita yang nggak bersinggungan dengan hal-hal seperti itu, memang mudah saja kritik sana kritik sini nggak ada beban. Tapi bagaimana mereka yang praktek nahi mungkar di garis depan?

Maka jangan heran jika ketika jadi anggota dewan atau penguasa, kadang yang kita harapkan baik, ternyata berbeda, jauh dari harapan. Bukan karena mereka berubah jadi jahat, atau tidak baik, tapi mungkin hanya karena nggak kuat saja.

Solusi Partai Platform

Kesimpulan yang bisa kami ambil, partai-partai yang ada sekarang, adalah sangat tergantung dari pimpinan pusatnya, atau dewan pimpinan pusatnya. Karena yang umum sudah seperti itu, maka para bromocorah, para penjahat negeri ini cukup dekati atau tekan para pimpinan-pimpinan partai, atau dewan pertimbangan partai, nanti yang bawah toh akan mengikuti, atau dikadalin.

Maka jangan heran, jika banyak LSM-LSM luar negeri – yang sering kita dengar – bercokol di Jakarta atau sekitaran gedung DPR, untuk mengendalikan, baik opini publik, para petinggi partai, maupun para anggota partai yang duduk di DPR. Itulah mengapa akhirnya banyak dibuat UU yang menguntungkan asing atau pemodal, dan malah merugikan rakyat.

Di konsep partai platform, kita tidak mengenal kader, tidak mengenal petinggi partai, dan tidak mengenal kebijakan partai. Tidak ada divisi politik, divisi pendidikan, tidak ada divisi kaderisasi, dan lain-lain. Karena partai platform hanya mengenal pengurus partai, yang tugasnya hanya administratif saat caleg-calegnya belum jadi anggota legislatif. Dan setelah jadi anggota legislatif, full, mereka memikirkan rakyat dan fraksi.

Tidak ada namanya rapat anggota legislatif dengan pengurus partai. Tidak ada rapat atau pembinaan kader. Adanya rapat pengurus, itupun untuk mengurus partai, bukan mengurus kebijakan atau pandangan partai terhadap kebijakan politik negaranya.

Jadi, para caleg partai platform ini, sudah lepas tanggung jawab terhadap partai, mereka dikontrol oleh pemilihnya dan dewan tokoh masyarakat yang menunjuknya. Jadi betul-betul milik rakyat, bukan milik partai. Kalau ada titipan peringatan atau kebijakan secara adminitratif, baru partai akan berperan.

Maka, dengan solusi seperti ini, akan sedikit lebih sulit untuk mengendalikan arah partai, karena memang tidak memiliki kepala. Kepalanya menyebar merata ke semua anggota. Anggota satu dan lainnya tidak saling mengatur, juga tidak saling mengendalikan.

Salah kaprah ketika para LSM atau para begundal politik itu mendekati para kader atau ketua partai, karena pertama, pengurus partai tidak memiliki kebijakan partai. Kedua, yang memilih para caleg bukan ketua partai, tapi rapat para dewan pertimbangan partai, yang dibentuk hanya saat mau pemilihan caleg terdaftar. Ketiga, tidak ada kader partai, adanya anggota partai, dan anggota bukan berarti kader, karena memang partai tidak mengkader anggota. Hanya pencatatan saja.

Efek negatifnya, memang partai tidak memiliki warna khusus. Semua diserahkan kepada para caleg yang telah terpilih. Tapi Insya Allah, malah jadi solusi problematika politik bangsa kita saat ini, yang dikit-dikit, partai mudah diperalat oleh pimpinan-pimpinannya.

Tinggalkan komentar

Partai Aspirasi Semesta : Sebuah Gagasan

Capaian tidak akan ada tanpa Perubahan.
Perubahan tidak akan ada tanpa Tindakan.
Tindakan tidak akan ada tanpa Gagasan.

Capaian : bangsa yg terhormat, adil dan makmur

Pendahuluan dan Latar Belakang

Kita tahu saat ini – kecuali PKS – beberapa partai umumnya sangat tergantung oleh patron figur pemimpinnya. Kalau pemimpinnya pas baik, arah partai juga baik, kalau dapat pemimpin buruk, kinerjanya ikut buruk. Pemimpin partai menjadi sangat sentral mengendalikan arah partai. Mungkin kalau figurnya hilang, menghilang pula partainya.

Masalah kedua, selain faktor figur, banyak partai juga kehilangan ruh idealisme. Beberapa partai berbasis Islam juga mengalami bencana ini. Partai-partai yang awalnya idealis membawa kepentingan ummat, kepentingan Islam, seiring waktu berjalan toh pindah juga ke tangan para oportunis pragmatis. Akhirnya partai-partai ini praktis tidak punya wibawa, tidak ada ruh Islam atau ruh ummat didalamnya, dan hanya membawa kepentingan sempit para pengurusnya.

Suara lapisan bawah, yang kadang menaruh harapan banyak ke partai Islam, tidak tersalurkan aspirasinya, malah hanya jadi alat mendulang suara. Miris sekali.

Mudahnya kepemimpinan partai Islam berpindah tangan ini sebenarnya masalah klasik. Dimana kita tahu karakter rata-rata orang muslim, orang melayu, jawa khususnya, memang dikenal lebih memilih mengindari berkonflik sama orang, apalagi urusan rebutan kursi. Sesuai kaidah : “untuk apa kekuasaan diperebutkan”, yang pada akhirnya malah jadi bumerang partai itu sendiri.

Jadi itulah mengapa saat ada yang berebut kursi jabatan (secara kotor), yang baik-baik memilih menghindar. Dan tidak sedikit yg pakai pakai jalan suap. Akhirnya stuktural partai diisi oleh orang-orang yang tidak memiliki idealisme, mudah terbeli dan membeli kepentingan sempit. Naudzubillah min dzalik.

Berangkat dari fenomena inilah, disini, kami memiliki gagasan untuk merancang sebuah organisasi partai, dimana keterwakilan ummat bisa betul-betul dijaga,, sehingga akan susah diisi oleh pihak-pihak yang pragmatis oportunis.

Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar

Marketing Strategy Microsains

Sebar brosur pinggir jalan ( pakek uraian kalimat, bkn gambar).

Kamu gak ingin transaksi pulsa mandiri?

Mau coba bisnis pulsa atau beli paket data secara mandiri? Kalau malam-malam habis pulsa, paket data habis, listrik padam karena token habis, kan ngeselin tuh. Belum lagi kalau anggota keluarga lain butuh, temen, tetangga yg mau isi pulsa atau token, kan bisa bantu ? Atau buat bisnisan? Tapi, jangan suka kasih hutangan, bahaya buat keuanganmu ntar lho..

Nah, kenapa gak join saja ke Microsains? Deket kok, kamu biasanya lewat. Lagian, kalau pakek aplikasi yang kantornya deket dan jelas, harga lebih murah, komplennya juga enak, bisa chat atau datang langsung. Mau injek saldo bs langsung tunai juga bisa transfer.

Daftar saja langsung dan siapkan hape atau aplikasinya, mau pakek aplikasi android, sms, atau telegram. Semua bisa.

Kita tunggu ya,

Isi : Pengin bisnis pulsa

? Sederhana saja. Datang ke Microsains : Jl Arif Rahman Hakim 71a (Samping Bakso Kalap). Daftar, deposit (minim 100.000), dan transaksi. Bisa gunakan aplikasi android, telegram, web, dan sms. Lengkap lho.

Tinggalkan komentar

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Dalam Bikin Apps

Fungsional (Functionality) : dibutuhkan? 

  • Jaringan Komunitas : bisa daftar, trx dan komplen
  • Aplikasi TKI :

Kesederhanaan (Simplicity) : mudah dipahami 

  • Jaringan Komunitas
  • Aplikasi TKI

Frekwensi Pemakaian : minimal sebulan sekali 

  • Jaringan Komunitas
  • Aplikasi TKI

Kemudahan Pemakaian (User Friendly) : mudah dipakai 

  • Jaringan Komunitas
  • Aplikasi TKI

 

Tinggalkan komentar

Standard Wawancara Tokoh

Ini hasil dialog dengan cak Yudhanarko. Tokoh Robotika Indonesia.

  1. Baiknya, chat dulu memperkenalkan diri dan utk minta izin menelepon. Begitu yg sering aku alami. Aku sdh sering (ada sekitar 10 kali) dihubungi wartawan atau koresponden suatu media. Biasanya mereka begitu
  2. Nanti di percakapan telepon, sampaikan maksud utk wawancara. Jika berkenan via telpon.
  3. Selesai wawancara via telpon, sampaikan terimakasih dan mhn kesediaannya utk chat jika ada info yg msh dibutuhkan.
  4. Jika tidak berkenan via telepon, langsung tawarkan via chat. Sepertinya, saat wawancara via telepon, baiknya direkam ya. Lebih baik lagi jika naskah sebelum dipublikasikan, dikirim dulu ke narsum utk dimintakan koreksi.
  5. Bbrp wartawan yg wawancarai aku melakukan itu, apalagi jika naskahnya akan diterbitkan dlm bentuk artikel. Beda kalau berita, langsung terbit

Tinggalkan komentar